Halaman

Rabu, 10 September 2014

APLIKASI PENGAJARAN AL QUR'AN UNTUK TKQ DAN TPQ

APLIKASI PENGAJARAN AL-QUR’AN PADA TKA/TKQ DAN TPA/TPQ DALAM RANGKA MENCAPAI TARGET

TKA/TKQ & TPA/TPQ merupakan pendidikan Non Formal, tetapi pelaksanaan Kegiatan Mengajar (KBM) nya harus “FORMAL” 

Hal demikian dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Dipandu dengan :
    a. Kurikulum
    b. Manajemen dan tata tertib
    c. Surpervisi
    e. Administrasi dan Kartu-kartu (form-form) monitor/prestasi

2. Penyajian dikemas dengan BBM :
    B. = Bercermin  =>        (bahan)
    B. = Berserita    =>        (bakar)
    B. = Menyanyi   =>        (Minat)
    Dengan adany BBM. , minat santri/peserta didik untuk anak belajar .
3. Waktu belajar dimungkinkan sore hari (bileh pagai atau belajar semakin besar.
4. perbandingan dengan santri 112, ( 1 orang guru mengajar 12 santri)  
5. Alokasi belajar dalam 1 Minggu :
    a. 5 – 6 hari belajar, dengan belajar efektif 90 menit setiap hari :
        1. 10 menit klasikan awal10 menit klasikan awal
        2. 10 menit klasikan awal klasikal kelompok
        3. 60 menit privat
        4. 10 menit klasikal akhir
     b. 3 – 4 hari dengan belajar efektif 120 menit :

         1. 15 menit klasikal awal
         2. 15 menit klasikal kelompok
         3. 75 menit privat
         4. 15 menit klasikal akhir
                  
Klasikal awal biasanya dalam rangka mengkondisikan dimulainya kegiatan belajar mengajar seperti do’a mau belajar, senandung do’a Al-Qur’an, ikrar santri dan lain-lain. Adapun klasikal kelompok disampaikan penjelasantentang materi pelajaran hafalan dan materi yang akan dipelajari dalam privat. Sedangkan privat diisi langsung membaca bahan ajar atau tadarus Al-Qur’an satu persatu secara individu. Dan klasikal akhir diisi dengan BBM dan diakhiri dengan Do’a sesudah belajar (penutup) atau akhir pertemuan.
Untuk mencapai terget pembelajaran diatas, maka perlu dipahami Skema Jenjang Pendidikan Al-Qur’an yang harus ditempuh oleh para santri dalam rangka memantapkan jati dirinya sebagai Generasi Qur’ani Menyongsong Masa Depan Gemilang.


Sabtu, 08 Juni 2013

SEJARAH DAN LATAR BELAKANG BERDIRINYA TK ISLAM AL-ISTIQOMAH III

TK Islam Al-Istiqomah III didirikan pada tahun 2006. Dengan bernaung dibawah yayasan Al-Istiqomah yang beralamat di Jl Bintaro Permai III. Sebenarnya awal mula berdirinya TK ini adalah dengan didahului bergabung dibawah naungan yayasan Al-Istiqomah dan menjadi Staff pengajar di yayasan tersebut. 

Akhirnya lama kelamaan ada suatu keinginan dalam hati untuk ikut mendirikan Lembaga Pendidikan yang berorientasikan kepada Pendidikan Anak dan Alhamdulillah Ketua Yayasan Al-Istiqomah Bapak Isa Ansori M.Pd memberikan izin kepda saya untuk mendirikan sebua Lembaga Pendidikan dibawah naungan Yayasan Beliau. Maka dengan dukungan tersebut akhirnya saya niatkan tekad untuk memulai dan merintis sarana pendidikan tersebut. 

Dengan diawali dari mencari lokasi dan tempat yang sesuai dan cocok serta masih belum banyaknya TK di daerah tersebut maka akhirnya saya menemukan tempat yang strategis tepat di pinggir jalan di perkampungan yang terletak di daerah Sawah Baru Ciputat Rt. 001/002 Tangerang Selatan yang menjadi tempat TK kami berdiri sekarang. 

Sebenarnya beground saya sendiri adalah Lulusan dari Pendidikan Pesantren yang terkenal dengan sebutan GONTOR atau DARUSSALAM yang terletak didaerah Jawa Timur Ponorogo. Maka dengan modal dan pengalaman yang saya miliki itulah saya memulai dan merintis TK Al-Istiqomah III sampai dengan sekarang

B. Latar belakang berdirinya TK Islam Al-Istiqomah III

Yayasan Al-Istiqomah yang bergerak dibidang pendidikan, didirikan dengan pertimbangan sebagai berikut :
  1. Membantu dan turut serta mensukseskan pemerintahan dalam bidang pendidikan untuk mencapai tujuan Nasional yaitu Mencerdaskan Kehidupan Bangsa
  2. Membentuk manusia pembangunan Indonesia yang berpancasila, sehat jasmani dan rohani 
  3. Kami berupaya dengan muatan Islami yang menjadi bagian dari kurikulum mengenalkan dan menumbuhkan rasa cinta anak pada Al-Qur'an sebagai pedoman hidup.
  4. Mengembangkan sistem belajar yang lengkap dan terpadu.
  5. Mengembangkan potensi anak secara menyeluruh dan seimbang sesuai dengan minat anak, kebutuhan. tingkat perkembangan dan kemampuan anak.
  6. Melanjutkan program sekolah Taman Kanak Kanak yang telah berjalan baik.
Demikianlah alasan dan pertimbangan pendirian sekolah TK Islam Al-Istiqomah III

Visi dan Misi TK AL-ISTIQOMAH III

VISI


MISI


Minggu, 27 Januari 2013

Cerita Dongeng rakyat : Sangkuriang

Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu.

Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa
anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya.

Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.

Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya
Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan
sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembaraSetelah
kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan memiliki kecantikan abadi.

Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya.
Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang
tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang
melamarnya. Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya.

Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk
merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk
merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala
calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama
diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat
ketakutan. Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.

Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan
dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia
minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.

Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib
untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan
tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.

Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.

Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."

Hamid dan Bangau berkaki panjang


Hamid adalah anak laki-laki yang sangat rajin dan ceria. Ia sangat tertarik pada burung-burung, dan ingin mengetahui segala sesuatu tentang mereka dengan baik. Terkadang ia merawat burung-burung di rumahnya, tapi kemudian dibiarkannya mereka pergi. Ia sangat menyukai kebebasan burung-burung itu. Suatu hari di musim semi, Hamid melihat sekumpulan burung berkaki panjang terbang bersama-sama. Langsung ia berlari ke teras rumahnya untuk memperhatikan mereka lebih dekat lagi. Sesampainya di luar, ia melihat dua ekor dari sekumpulan burung itu telah mendarat di atap rumah. Ia sangat gembira melihat mereka. Dilambaikannya tangannya, dan dipanggilnya burung-burung itu.

“Halo, aku Hamid. Kalian siapa?”


“Halo, Hamid. Kuharap kami tidak menyulitkanmu dengan mendarat di sini. Kami ingin sekali berbincang-bincang denganmu, dan mengenalmu,” kata salah satu burung dari pasangan itu.

“Dengan senang hati,” kata Hamid. “Aku suka sekali pada semua burung, sangat suka. Dapatkah kalian ceritakan sedikit padaku tentang diri kalian?”


“Tentu saja,” balas burung pertama. “Kami adalah bangau. Kami merupakan burung-burung yang bermigrasi dengan sayap-sayap seputih salju yang merentang sepanjang 3.5-5 kaki (atau satu sampai satu setengah meter), ditambah ekor hitam yang panjang. Warna merah pada paruh kami, dan kaki panjang kami, membuat penampilan kami tampak menarik.”

Hamid setuju. “Kamu betul-betul tampak cantik!”


“Apa yang paling diperhatikan orang pada diri kami adalah gaya terbang kami,” bangau itu melanjutkan. “Kami terbang dengan paruh mengarah lurus ke depan, sementara kaki-kaki kami lurus ke belakang. Ini membuat kami mampu terbang lebih cepat dengan memanfaatkan udara.”

Hamid ingin tahu, “Dan, kemana kalian bepergian sekarang?”

“Setiap tahun kami bermigrasi dalam kumpulan-kumpulan besar, Hamid, karena kami tak dapat berdiam di tempat-tempat yang dingin. Dengan melakukan penerbangan ini, kami juga membawa kabar baik pada orang-orang tentang mendekatnya hari-hari musim panas yang hangat. Selama musim panas berlangsung, kami tinggal di sepanjang wilayah luas yang merentang dari Eropa ke Afrika Utara, dan dari Turki ke Jepang. Ketika cuaca mulai mendingin, kami bermigrasi ke belahan bumi selatan, ke Afrika tropis dan India.”

Hamid bingung, “Tapi, bagaimana kalian mengetahui saat-saat ketika cuaca mulai mendingin?”

Bangau itu tersenyum. “Itu betul-betul pertanyaan bagus. Tentu saja, jawabannya adalah bahwa Allah mengajari kami. Kami semua, pada waktu yang sama, merasakan kebutuhan untuk berpindah ke negara-negara yang hangat. Allah membuat kami merasakan itu. Adalah Allah yang memperlihatkan kami cara-cara terbang, dan ketika musim gugur kembali datang, Ia memastikan bahwa kami dapat kembali melintasi jarak ribuan mil dan menemukan kembali rumah lama kami. Allahlah dengan inspirasiNya yang mengajari kami semua ini.”


“Menarik sekali! Kalian dapat bepergian jauh dan kembali, lalu menemukan sarang lama kalian tanpa membuat kesalahan, seakan-akan kalian memiliki kompas di tangan,” kata Hamid terkesan.
Bangau itu meneruskan, “Tentu saja, jenis ingatan yang kuat seperti ini, dan kemampuan menemukan arah yang baik, semuanya merupakan hasil penciptaan Allah yang luarbiasa, yang memberikanNya pada kami.”

Hamid punya pertanyaan lain pada teman barunya, “Kalian ‘kan tinggal di dekat manusia?”

“Iya,” jawab temannya. “Kami membuat sarang-sarang kami di atap-atap rumah. Dan kami membangun sarang-sarang di puncak pepohonan serta cerobong asap ...”
Bangau lain kemudian berdiri dan berkata, “Maaf, Hamid, kami harus melanjutkan perjalanan.”
 

Hamid menyaksikan teman-teman barunya tampak mengeci,l dan kian mengecil, ketika mereka melanjutkan perjalanannya.

Tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam Al Kitab, dan kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan. (Surat al-An’am: 38).


Postingan Lama